5 Fenomena Langit Spektakuler Oktober 2025: Jangan Terlewat!

5 Fenomena Langit Spektakuler Oktober 2025: Jangan Terlewat!

Fenomena langit Oktober 2025 akan menyajikan beragam pertunjukan spektakuler yang sayang untuk dilewatkan. Kita akan disuguhi pemandangan menakjubkan mulai dari Gerhana Bulan Sebagian hingga kemunculan Supermoon dalam satu bulan penuh.

Pada bulan Oktober mendatang, langit malam ini akan dihiasi oleh fenomena alam yang menarik perhatian. Salah satu yang paling ditunggu adalah Gerhana Bulan Sebagian yang akan berlangsung dari pukul 01.01 WIB sampai 05.26 WIB dengan fase gerhana sebagian dimulai dari pukul 02.35 WIB sampai 03.52 WIB. Selain itu, fenomena bintang dan penampakan cahaya di langit malam ini juga akan semakin dramatis saat Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi, yakni sekitar 357.343 Km saat peristiwa Perigee.

Dalam artikel ini, kami akan membahas lima fenomena langit terspektakuler yang akan terjadi pada Oktober 2025. Mulai dari waktu terbaik menyaksikan hujan meteor yang bisa mencapai 100 meteor per jam, hingga keunikan Supermoon yang membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang karena berada pada jarak terdekat dengan Bumi, sekitar 357.344 kilometer. Jadi, siapkan kalender dan teleskop Anda untuk menyambut pertunjukan alam yang menakjubkan ini!

Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025

Image Source: BMKG

Satu fenomena langit yang paling ditunggu-tunggu di Oktober 2025 adalah Gerhana Bulan Sebagian yang akan terjadi pada tanggal 29 Oktober. Fenomena ini menjadi peristiwa astronomis yang menarik karena tidak semua wilayah di dunia dapat menyaksikannya secara langsung.

Waktu terjadinya Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025

Gerhana Bulan Sebagian pada 29 Oktober 2025 akan berlangsung dalam beberapa fase yang berbeda. Secara keseluruhan, durasi gerhana dari fase awal hingga akhir akan berlangsung selama 4 jam 28 menit 10 detik. Namun untuk fase gerhana sebagian, durasi yang akan terlihat hanya sekitar 1 jam 18 menit 57 detik.

Berikut jadwal lengkap terjadinya Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025 di tiga zona waktu Indonesia:

Waktu Indonesia Barat (WIB):

  • Awal Gerhana Penumbra (P1): 01:01:47 WIB
  • Awal Gerhana Sebagian (U1): 02:35:18 WIB
  • Puncak Gerhana: 03:14:03 WIB
  • Akhir Gerhana Sebagian (U4): 03:52:39 WIB
  • Akhir Gerhana Penumbra (P4): 05:26:20 WIB

Waktu Indonesia Tengah (WITA):

  • Awal Gerhana Penumbra (P1): 02:01:47 WITA
  • Awal Gerhana Sebagian (U1): 03:35:18 WITA
  • Puncak Gerhana: 04:14:03 WITA
  • Akhir Gerhana Sebagian (U4): 04:52:39 WITA
  • Akhir Gerhana Penumbra (P4): 06:26:20 WITA (Bulan sudah terbenam)

Waktu Indonesia Timur (WIT):

  • Awal Gerhana Penumbra (P1): 03:01:47 WIT
  • Awal Gerhana Sebagian (U1): 04:35:18 WIT
  • Puncak Gerhana: 05:14:03 WIT
  • Akhir Gerhana Sebagian (U4): 05:52:39 WIT (Bulan sudah terbenam)
  • Akhir Gerhana Penumbra (P4): 07:26:20 WIT

Berdasarkan data tersebut, puncak gerhana akan terjadi pada pukul 03:14:03 WIB. Pada saat itu, sebagian permukaan Bulan akan berada di bawah bayangan inti (umbra) Bumi. Meskipun demikian, pengamat perlu waspada karena waktu puncak di Indonesia bagian timur akan sangat dekat dengan waktu matahari terbit, sehingga langit mungkin sudah terlalu terang dan menyulitkan pengamatan.

Wilayah pengamatan Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025

Meskipun Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025 akan terlihat di seluruh wilayah Indonesia, tidak semua daerah akan mendapatkan kesempatan menyaksikan seluruh fase gerhana. Hal ini disebabkan oleh perbedaan zona waktu dan posisi Bulan yang sudah terbenam di beberapa wilayah saat gerhana masih berlangsung.

Berdasarkan peta pengamatan, terdapat tiga kategori wilayah pengamatan di Indonesia:

  1. Wilayah yang dapat menyaksikan seluruh fase gerhana – Daerah di bagian barat Indonesia seperti sebagian Kalimantan Barat, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Jambi, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, dan Aceh akan dapat mengamati seluruh fase gerhana dari awal hingga akhir.
  2. Wilayah yang dapat menyaksikan sebagian fase gerhana – Pengamat di sebagian kecil Papua Barat, sebagian Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTT, NTB, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan sebagian Jawa Barat hanya akan melihat gerhana dari awal hingga Bulan terbenam saat fase Gerhana Bulan Penumbra sedang berlangsung.
  3. Wilayah dengan pengamatan terbatas – Pengamat di Papua, sebagian besar Papua Barat, dan sebagian Maluku akan mendapati gerhana Bulan dari awal hingga Bulan terbenam saat fase Gerhana Bulan Sebagian masih berlangsung. Penduduk di wilayah Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan tidak akan dapat melihat fase akhir gerhana sebagian karena langit sudah terlampau terang.

Untuk pengamatan optimal, disarankan bagi penduduk di kawasan Sumatera, Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, dan sebagian Kalimantan Barat karena mereka akan menyaksikan gerhana bulan sebagian dari awal hingga berakhir. Tentunya dengan catatan kondisi cuaca yang cerah.

Fenomena visual Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025

Gerhana Bulan Sebagian terjadi ketika posisi Bulan-Matahari-Bumi berada sejajar namun tidak sempurna. Pada dasarnya, gerhana bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya matahari oleh bumi sehingga tidak semuanya sampai ke bulan. Peristiwa ini hanya terjadi saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Pada Gerhana Bulan Sebagian 29 Oktober 2025, sebagian piringan Bulan akan masuk ke umbra (bayangan inti) Bumi. Akibatnya, saat puncak gerhana terjadi, Bulan akan terlihat berwarna gelap dengan sedikit kemerahan pada bagian yang terkena umbra Bumi.

Perlu dicatat bahwa hanya sekitar 12% dari seluruh piringan permukaan bulan yang akan tertutup oleh bayangan Bumi. Para astronom dan ahli astronomi juga menyebutkan bahwa pada gerhana kali ini, sekitar 6% permukaan Bulan yang mengalami obskurasi atau berada dalam umbra Bumi. Walaupun begitu, fenomena ini tetap menarik untuk diamati.

Bulan yang berada dalam penumbra (bayangan kabur) akan tampak lebih redup dibandingkan purnama pada umumnya. Sementara itu, bagian Bulan yang berada dalam umbra akan tampak menghilang atau menjadi gelap bagi pengamat di Bumi.

Warna kemerahan yang mungkin terlihat pada permukaan Bulan yang terkena umbra terjadi karena cahaya dengan panjang gelombang merah masih dapat lolos melewati atmosfer Bumi dan menyinari Bulan. Namun, sebagian cahaya merah juga ada yang dibiaskan atau dibelokkan. Cahaya pada panjang gelombang hijau sampai ungu disebarkan dan disaring oleh atmosfer.

Yang menarik, gerhana bulan sebagian pada 29 Oktober 2025 ini akan menjadi fenomena gerhana terakhir di tahun tersebut, sehingga sayang untuk dilewatkan. Untuk menyaksikannya, tidak diperlukan peralatan khusus karena pengamatan bisa dilakukan dengan mata telanjang.

Untuk pengamat yang ingin mendokumentasikan fenomena ini, persiapan perlu dilakukan dengan matang. Kapasitas penyimpanan yang memadai diperlukan untuk menampung data foto citra bulan hingga gerhana berakhir. Teleskop dan kamera khusus dapat digunakan untuk mendapatkan gambar lebih detail, namun tidak menjadi keharusan bagi pengamat biasa.

Sebagian ahli astronomi bahkan menggunakan momen gerhana bulan untuk mengukur akurasi metode hisab (perhitungan astronomis), menunjukkan nilai ilmiah dari fenomena ini di luar keindahannya.

Supermoon 17 Oktober 2025

Image Source: mili.id

Di antara beragam fenomena langit Oktober 2025, Supermoon menjadi salah satu yang paling memukau dan mudah diamati tanpa peralatan khusus. Fenomena ini menawarkan pemandangan Bulan yang tampak jauh lebih besar dan cemerlang dibandingkan purnama biasa.

Apa itu Supermoon 17 Oktober 2025

Supermoon merupakan istilah populer untuk menggambarkan Bulan Purnama Perigee, yaitu ketika fase purnama terjadi bersamaan dengan posisi Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi dalam orbit elipsnya (perigee). Fenomena ini pertama kali diperkenalkan dengan istilah “Supermoon” pada tahun 1979 dan semakin populer setelah tiga supermoon terjadi berturut-turut pada akhir 2016.

Pada dasarnya, orbit Bulan tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Akibatnya, jarak antara Bulan dan Bumi selalu berubah. Ketika Bulan mencapai perigee, jaraknya menjadi lebih dekat dari rata-rata. Sementara pada apogee (titik terjauh), jaraknya berada di titik maksimum dari Bumi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada fase purnama Oktober 2025, posisi Bulan berada sekitar 361.458 kilometer dari Bumi. Bulan kemudian mencapai titik perigee pada 8 Oktober 2025 pukul 19.35 WIB dengan jarak 359.819 kilometer. Sebagai perbandingan, pada purnama 13 April 2025, Bulan justru berada di titik terjauhnya (apogee) dengan jarak mencapai 406.006 kilometer.

Supermoon Oktober 2025 dikenal juga dengan sebutan Harvest Moon (Bulan Panen) karena munculnya dekat dengan titik Autumnal Equinox, masa ketika para petani di masa lalu bekerja di bawah cahaya Bulan untuk memanen hasil terakhir musim panas sebelum cuaca menjadi dingin.

Waktu dan lokasi terbaik melihat Supermoon 17 Oktober 2025

Fenomena supermoon Oktober 2025 akan mencapai puncak cahayanya pada Selasa, 7 Oktober 2025. Menurut NASA, fase purnama sempurna terjadi pada pukul 11.48 malam waktu bagian Timur (ET) atau sekitar pukul 10.48 pagi WIB pada Rabu, 8 Oktober 2025.

Namun, Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Setyoajie Prayoedhie menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk menyaksikan supermoon di Indonesia adalah saat Bulan baru terbit, biasanya setelah matahari terbenam. Penampakan Bulan akan terlihat dari senja hingga malam hari, ketika Bulan baru muncul di arah timur dan tampak besar di dekat cakrawala.

“Waktu terbaik menyaksikan Supermoon di Indonesia pada saat bulan terbit (biasanya setelah matahari terbenam) sehingga warna bulannya terlihat bagus dan jelas,” kata Ajie saat dikonfirmasi.

Waktu optimal untuk menikmati fenomena ini di Indonesia adalah:

  • Mulai dari Bulan terbit sekitar pukul 17.55 WIB
  • Puncak penampakan sekitar pukul 19.00-20.00 WIB
  • Pengamatan masih dapat dilakukan hingga malam hari

Meski demikian, kemampuan untuk melihat Supermoon dengan jelas tetap bergantung pada cuaca di sekitar pengamat. “Tentunya tergantung dinamika atmosfer dan kondisi cuaca saat pengamatan,” tambah Ajie.

Untuk lokasi pengamatan terbaik, pilih tempat yang lapang dan jauh dari polusi cahaya maupun penghalang seperti bangunan, pohon, atau bukit yang bisa menghalangi pandangan. Berbeda dengan fenomena langit lain yang hanya bisa dilihat di wilayah tertentu, Supermoon Oktober 2025 ini dapat disaksikan dari seluruh dunia, selama cuaca mendukung dan langit cerah.

Berdasarkan pantauan langsung Kompas.com dari Solo dan Yogyakarta pada peristiwa Supermoon serupa, fenomena ini bisa terlihat dengan jelas. Meskipun ukuran Bulan yang lebih besar tidak selalu terlihat secara signifikan dengan mata telanjang, cahayanya memang tampak lebih terang dibanding bulan purnama biasanya.

Dampak visual Supermoon 17 Oktober 2025

Ketika Supermoon terjadi, penampakan Bulan menjadi sangat spektakuler. Ukuran Bulan akan tampak sekitar 14 persen lebih besar dan hingga 30 persen lebih terang dibanding purnama biasa. Fenomena ini menjadikannya bulan purnama terbesar dan paling terang sejauh ini di tahun 2025.

Pada jam-jam pertama setelah terbit, Bulan mungkin tampak berwarna oranye kekuningan akibat hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Cahaya biru yang dipantulkan dari permukaan Bulan tersebar, sementara gelombang cahaya yang lebih panjang dan kemerahan tetap terlihat, memberi nuansa hangat pada warna Bulan.

Selain itu, terdapat fenomena yang disebut “moon illusion”—ilusi optik yang membuat Bulan tampak lebih besar saat berada di dekat horizon dibanding ketika berada tinggi di langit. Efek ini semakin memperkuat kesan dramatis Supermoon saat baru terbit di ufuk timur.

Yang menarik, selain Supermoon, pengamat juga berkesempatan menyaksikan planet Saturnus yang akan tampak bersinar sekitar 15 derajat di kanan atas bulan purnama saat terbit. Empat bintang dalam formasi Square of Pegasus juga akan terlihat membentuk pola seperti berlian di atas piringan Bulan.

Meskipun Supermoon memberikan pemandangan menakjubkan, fenomena ini juga memiliki dampak geofisika kecil di Bumi. Kondisi ini dapat memengaruhi pasang surut laut, mirip dengan fenomena bulan purnama biasa. Saat Bulan purnama bertepatan dengan posisi Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi (perigee), pasang naik yang muncul disebut pasang surut musim semi perigean atau pasang surut raja.

Menurut ahli astronomi Fred Espenak, gravitasi Supermoon yang berada paling dekat dengan Bumi hanya sekitar 4% lebih besar dibanding gravitasi Bulan pada jarak rata-rata. Pasang surut Supermoon biasanya terjadi sekitar satu hari setelah fase Bulan baru atau Bulan purnama.

Supermoon Oktober 2025 juga menandai awal dari rangkaian tiga Supermoon berturut-turut yang akan menghiasi langit Indonesia pada akhir tahun 2025. Fenomena serupa akan kembali terlihat pada 5 November 2025 dengan jarak 356.980 km, dan 4 Desember 2025 dengan jarak 357.219 km dari Bumi.

Supermoon Oktober 2025 ini menjadi momen penting bagi para pengamat langit dan fotografi, karena memberikan kesempatan mendapatkan gambar Bulan dengan detail dan kecemerlangan yang lebih baik. Tidak perlu teleskop atau teropong khusus, fenomena ini dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang asalkan kondisi langit cerah.

Hujan Meteor Orionid 21 Oktober 2025

Image Source: Kompas.com

Hujan Meteor Orionid akan menambah daftar fenomena langit menakjubkan yang bisa disaksikan pada Oktober 2025. Fenomena tahunan ini memberikan kesempatan bagi para pengamat untuk menyaksikan kilatan cahaya spektakuler yang melintasi langit malam dengan kecepatan luar biasa.

Asal usul Hujan Meteor Orionid 21 Oktober 2025

Hujan meteor Orionid merupakan fenomena langit tahunan yang terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan partikel kecil yang ditinggalkan oleh Komet Halley (1P/Halley). Menariknya, walaupun komet Halley hanya melintasi dekat Bumi sekali setiap sekitar 75-76 tahun, partikel-partikel kecil yang ditinggalkannya tetap berada di orbit dan menciptakan hujan meteor yang dapat disaksikan setiap tahun.

Ketika Komet Halley mengelilingi Matahari, ia meninggalkan jejak berupa puing-puing kecil di sepanjang orbitnya. Saat Bumi melintasi jalur orbit tersebut pada bulan Oktober, partikel-partikel kecil ini memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sangat tinggi. Setelah memasuki atmosfer, puing-puing tersebut terbakar akibat gesekan dengan udara dan menghasilkan kilatan cahaya terang yang kita lihat sebagai meteor.

Nama “Orionid” sendiri berasal dari konstelasi Orion, karena titik asal (radiant) hujan meteor ini tampak berada di sekitar Bintang Betelgeuse yang berwarna merah terang di wilayah “gagang” Orion. Kendati demikian, meteor Orionid dapat muncul dari arah mana saja di langit, tidak hanya dari arah rasi Orion.

Orionid dikenal sebagai salah satu meteor tercepat, dengan kecepatan mencapai sekitar 66 kilometer per detik (sekitar 148.000 mil per jam). Kecepatan yang luar biasa ini menghasilkan cahaya terang dan terkadang meninggalkan jejak cahaya gas terionisasi yang indah saat melintasi langit malam.

Waktu puncak Hujan Meteor Orionid 21 Oktober 2025

Hujan meteor Orionid akan aktif dalam periode yang cukup panjang, dimulai sejak 2 Oktober dan berlangsung hingga 7 November 2025. Meski begitu, aktivitas meteor akan mencapai puncaknya pada tanggal 21 Oktober 2025.

Berdasarkan informasi dari situs astronomi In The Sky, puncak aktivitas hujan meteor Orionid diperkirakan terjadi pada tanggal 21 Oktober 2025 sekitar pukul 18.00 UTC, yang berarti sekitar pukul 01.00 WIB pada tanggal 22 Oktober 2025. Pada saat puncak ini, langit akan dihiasi dengan sekitar 15-20 meteor per jam dalam kondisi langit yang gelap[111].

Jadwal pengamatan terbaik Hujan Meteor Orionid 2025:

  • Selasa, 21 Oktober 2025: pukul 22.00-04.00 waktu setempat
  • Rabu, 22 Oktober 2025: pukul 22.00-04.00 waktu setempat

Di Indonesia, titik radiasi hujan meteor Orionid baru akan terbit sekitar pukul 22.32 WIB, berada di konstelasi Orion yang terkenal dengan bintang sabuknya. Fenomena ini akan dapat diamati hingga menjelang fajar sekitar pukul 05.00 WIB.

Keberuntungan bagi pengamat tahun ini, kondisi pengamatan diperkirakan sangat ideal karena bertepatan dengan fase bulan baru pada 21 Oktober 2025. Fase bulan baru menjamin langit akan tetap gelap tanpa adanya cahaya bulan yang mengganggu, sehingga memudahkan untuk melihat meteor dengan lebih jelas.

Selain itu, titik radiasi hujan meteor Orionid akan mencapai ketinggian maksimal sekitar 72° di atas cakrawala pada dini hari, sehingga cukup ideal untuk diamati dari berbagai daerah di Indonesia.

Tips pengamatan Hujan Meteor Orionid 21 Oktober 2025

Untuk menikmati hujan meteor Orionid dengan maksimal, tidak diperlukan peralatan khusus seperti teleskop atau teropong. Fenomena ini merupakan salah satu tontonan alam yang paling mudah dinikmati karena dapat diamati langsung dengan mata telanjang.

Berikut beberapa tips untuk mengoptimalkan pengalaman menyaksikan Hujan Meteor Orionid:

  1. Pilih lokasi yang tepat – Cari lokasi yang gelap dan minim polusi cahaya, seperti daerah pedesaan, perbukitan, atau pantai. Hindari area perkotaan dengan banyak lampu karena cahaya kota dapat menghalangi penampakan meteor yang lebih redup.
  2. Waktu terbaik pengamatan – Mulailah mengamati sekitar tengah malam hingga menjelang fajar (pukul 00.00-04.00 WIB) saat titik radiasi sudah tinggi di langit. Waktu optimal adalah ketika rasi Orion cukup tinggi di langit, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga menjelang subuh.
  3. Beri waktu mata beradaptasi – Biarkan mata menyesuaikan dengan kegelapan selama sekitar 15-20 menit untuk meningkatkan kemampuan melihat meteor yang lebih redup[132]. Jika Anda perlu menggunakan lampu senter, gunakan yang berwarna merah agar penglihatan malam tetap optimal.
  4. Posisi yang nyaman – Siapkan alas duduk atau kursi santai agar nyaman saat memandang langit dalam waktu lama. Berbaring dan membiarkan pandangan menyapu area langit yang luas akan memudahkan untuk melihat kilatan meteor.
  5. Arah pandang – Meskipun titik asal meteor berada di rasi Orion (timur), meteor dapat muncul di mana saja di langit. Untuk pengamat di Indonesia, arahkan pandangan ke langit timur laut ketika mulai mengamati, kemudian ke langit bagian selatan saat dini hari.
  6. Perhatikan cuaca – Pastikan cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan. Hambatan utama untuk menikmati hujan meteor biasanya adalah kondisi cuaca yang tidak mendukung.
  7. Kesabaran adalah kunci – Peristiwa hujan meteor berlangsung secara acak. Bersabarlah dan nikmati pemandangan langit malam secara keseluruhan, karena Anda mungkin perlu menunggu beberapa menit di antara kemunculan meteor.
  8. Dokumentasi – Jika ingin memotret fenomena ini, gunakan kamera dengan kemampuan eksposur panjang. Siapkan tripod untuk menghindari goyangan dan atur fokus ke tak hingga.

Pada puncak hujan meteor, pengamat bisa menyaksikan sekitar 15-20 meteor per jam di lokasi dengan langit gelap[131]. Tahun 2025 diperkirakan akan menjadi waktu yang ideal untuk mengamati hujan meteor Orionid karena bertepatan dengan fase bulan baru, sehingga langit malam akan cukup gelap untuk melihat bahkan meteor-meteor yang lebih redup[133].

Di samping keindahannya, hujan meteor Orionid juga menawarkan pengalaman unik untuk menyaksikan partikel-partikel dari Komet Halley yang terkenal, meskipun komet itu sendiri hanya akan kembali mendekati Bumi pada tahun 2061. Dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik, beberapa meteor Orionid dapat berubah menjadi bola api, menimbulkan kilatan cahaya besar yang memukau di langit malam.

Fase Bulan Baru 14 Oktober 2025

Image Source: langitselatan

Kegelapan malam di pertengahan Oktober 2025 akan menjadi kesempatan emas bagi para pengamat langit dan pecinta astronomi. Pada tanggal 14 Oktober 2025, langit akan menghadirkan fenomena Bulan Baru yang membuka peluang mengamati objek-objek langit yang biasanya terhalang oleh cahaya Bulan.

Makna Fase Bulan Baru 14 Oktober 2025

Bulan Baru atau New Moon adalah salah satu dari empat fase utama Bulan dalam siklus sinodisnya. Fase ini terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, sehingga sisi Bulan yang menghadap ke Bumi tidak mendapatkan cahaya Matahari. Pada dasarnya, Bulan tetap ada di langit, namun bagian yang terkena sinar Matahari adalah sisi yang menghadap ke arah berlawanan dari Bumi.

Fase Bulan Baru merupakan awal dari periode sinodis Bulan yang secara rata-rata ditempuh dalam waktu 29,53059 hari (29 hari 12 jam 44 menit 03 detik). Siklus ini berlanjut dari Bulan Baru ke fase setengah purnama awal (perempat pertama), kemudian ke fase purnama, berlanjut ke fase setengah purnama akhir (perempat akhir), dan kembali ke Bulan Baru.

Dalam tradisi pengamatan astronomi, fase Bulan Baru pada 14 Oktober 2025 memiliki makna penting sebagai waktu ideal untuk mengamati langit malam. Saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari, sehingga langit malam benar-benar gelap tanpa gangguan cahaya Bulan.

Kondisi langit malam saat Bulan Baru 14 Oktober 2025

Salah satu keunggulan utama fase Bulan Baru adalah langit yang benar-benar gelap sepanjang malam. Tanpa cahaya Bulan yang biasanya mendominasi dan “mencuci” langit malam, objek-objek langit yang lebih redup menjadi lebih mudah diamati.

Pada malam 14 Oktober 2025, kondisi langit akan sangat ideal untuk kegiatan astronomi karena:

  1. Langit malam akan benar-benar gelap tanpa cahaya Bulan
  2. Pengamat dapat menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan
  3. Waktu terbaik untuk melakukan astrofotografi objek Deep Sky atau Bima Sakti

Kondisi ini terjadi karena pada fase Bulan Baru, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Akibatnya, Bulan tidak muncul di langit malam, memberikan kondisi optimal untuk mengamati objek-objek langit yang redup.

Selain itu, periode minggu ke-3 dan ke-4 Oktober 2025 (16-24 Oktober) menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan berada pada fase Bulan Baru. Rentang waktu ini menawarkan kondisi langit yang ideal untuk mengamati beragam fenomena astronomi.

Fenomena bintang yang bisa diamati saat Bulan Baru 14 Oktober 2025

Saat fase Bulan Baru 14 Oktober 2025, pengamat akan mendapatkan kesempatan emas untuk menyaksikan berbagai objek langit yang biasanya sulit diamati. Kegelapan langit memungkinkan pengamat untuk melihat bintang-bintang yang cukup terang sebagai panduan dalam pengamatan.

Beberapa fenomena langit yang dapat diamati pada periode Bulan Baru Oktober 2025 antara lain:

  • Hujan meteor Orionid – Beruntungnya, fase Bulan Baru ini bertepatan dengan hujan meteor Orionid yang mencapai puncaknya pada 21 Oktober 2025. Kondisi langit yang gelap akan memungkinkan pengamat menyaksikan hingga 20 meteor per jam, terutama sejak tengah malam hingga menjelang fajar.
  • Objek langit dalam (deep-sky objects) – Tanpa gangguan cahaya Bulan, objek-objek seperti galaksi, nebula, dan gugus bintang yang redup menjadi lebih mudah diamati dan difoto.
  • Bima Sakti – Fase Bulan Baru menjadi waktu terbaik untuk melakukan astrofotografi Bima Sakti yang memukau.
  • Planet-planet – Pengamat bisa menikmati planet-planet yang terlihat di langit Oktober tanpa gangguan cahaya Bulan.

Untuk hasil pengamatan terbaik, ada beberapa tips yang bisa diikuti:

  1. Pilih lokasi pengamatan yang jauh dari polusi cahaya kota
  2. Biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan selama 20-30 menit sebelum mulai mengamati
  3. Gunakan peta bintang atau aplikasi astronomi untuk membantu identifikasi objek langit
  4. Jika melakukan fotografi, siapkan tripod dan kamera dengan kemampuan eksposur panjang

Periode Bulan Baru ini juga merupakan waktu yang tepat untuk mengamati bintang-bintang terang yang dapat dijadikan panduan dalam pengamatan objek langit lainnya. Bintang-bintang ini lebih mudah dikenali dan membantu pengamat pemula untuk mengorientasikan diri di langit malam.

Meskipun demikian, patut diingat bahwa fase Bulan Baru pada 14 Oktober 2025 berkaitan dengan fase Bulan lainnya dalam siklus sinodis. Seperti yang telah dijelaskan, bentuk orbit Bulan saat mengelilingi Bumi adalah elips, yang menyebabkan jarak Bulan dengan Bumi selalu berubah. Kondisi ini berkaitan dengan fenomena perige (jarak terdekat Bulan dengan Bumi) dan apoge (jarak terjauh Bulan dari Bumi) yang juga terjadi pada bulan Oktober 2025.

Bulan di Perigee 26 Oktober 2025

Menjelang akhir Oktober 2025, perhatian para pengamat langit akan tertuju pada fenomena astronomis penting lainnya. Pada tanggal 26 Oktober, Bulan akan mencapai titik perigee keduanya di bulan tersebut, menawarkan kesempatan langka untuk memahami dinamika orbit Bulan dan dampak visualnya di langit malam.

Apa itu Perigee Bulan 26 Oktober 2025

Perigee adalah titik dalam orbit Bulan ketika posisinya berada paling dekat dengan Bumi. Fenomena ini terjadi karena orbit Bulan mengelilingi Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Akibatnya, jarak antara Bulan dan Bumi selalu berubah-ubah sepanjang siklusnya.

Pada 26 Oktober 2025, Bulan akan mencapai titik perigee, yaitu posisi terdekatnya dari Bumi. Berdasarkan data astronomis, jarak Bulan dari Bumi saat perigee biasanya berkisar sekitar 356.000 kilometer. Untuk perbandingan, jarak rata-rata Bulan dari Bumi adalah sekitar 384.400 kilometer, sedangkan pada titik terjauhnya (apogee) bisa mencapai sekitar 406.000 kilometer.

Perigee bukanlah fenomena langka, karena dalam setiap bulan Bulan akan mencapai titik terdekat dan terjauhnya dari Bumi. Namun, yang membuat Oktober 2025 istimewa adalah adanya dua peristiwa perigee dalam satu bulan, dengan perigee pertama terjadi pada awal bulan yang bertepatan dengan fase purnama (Supermoon).

Perbedaan visual Bulan saat Perigee 26 Oktober 2025

Ketika Bulan berada di perigee pada 26 Oktober 2025, ukurannya akan tampak lebih besar dibandingkan saat berada di titik lain dalam orbitnya. Meskipun perigee kedua ini tidak bertepatan dengan fase purnama seperti Supermoon tanggal 7-8 Oktober, tetap ada perbedaan visual yang bisa diamati oleh pengamat yang jeli.

Perubahan yang paling mencolok adalah perbedaan ukuran semi-diameter Bulan. Saat perigee, ukuran semi-diameter Bulan bisa mencapai 16 menit 35,97 detik busur, yang secara visual membuat Bulan tampak lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Selain itu, ketika mengamati Bulan saat perigee, ada fenomena optik menarik yang disebut “ilusi Bulan” (moon illusion). Ketika Bulan berada di dekat horizon (di ufuk timur atau barat), otak manusia membandingkan ukurannya dengan objek di sekitar, seperti pepohonan atau gedung, sehingga Bulan tampak lebih besar. Efek ini murni persepsi visual manusia, bukan perubahan ukuran sebenarnya.

Kaitan Perigee dengan Supermoon Oktober 2025

Perigee Bulan 26 Oktober 2025 memiliki kaitan erat dengan Supermoon yang terjadi pada 7-8 Oktober 2025. Kedua fenomena ini menunjukkan dinamika orbit Bulan yang bervariasi. Supermoon terjadi ketika fase Bulan purnama bertepatan dengan posisi terdekat Bulan terhadap Bumi dalam orbitnya (perigee).

Pada 7 Oktober 2025, Bulan berada pada jarak 361.458 kilometer dari Bumi, sementara pada 8 Oktober 2025 pukul 19.35 WIB, Bulan mencapai perigee dengan jarak 359.819 kilometer. Kombinasi antara waktu purnama dan posisi Bulan yang sangat dekat dengan Bumi inilah yang menjadikan fenomena tersebut disebut Supermoon.

Yang menarik, setelah Supermoon 7 Oktober, terdapat rangkaian dua Supermoon lainnya yang akan terjadi pada 5 November dan 4 Desember 2025. Ini menunjukkan bahwa perigee Bulan 26 Oktober berada di antara dua peristiwa Supermoon tersebut, menciptakan pola yang menarik untuk diamati para penggemar astronomi.

Meskipun perigee 26 Oktober tidak bertepatan dengan fase purnama, pengaruh gravitasi Bulan pada pasang surut tetap sedikit lebih kuat dibandingkan saat Bulan berada pada jarak rata-ratanya. Menurut ahli astronomi Fred Espenak, gravitasi Bulan saat berada di perigee sekitar 4% lebih besar dibanding gravitasi Bulan pada jarak rata-rata.

Dengan demikian, perigee Bulan 26 Oktober 2025 menjadi bagian penting dari rangkaian fenomena langit Oktober 2025, melengkapi purnama super, gerhana bulan sebagian, dan hujan meteor Orionid yang mewarnai langit malam sepanjang bulan tersebut.

Kesimpulan

Demikianlah lima fenomena langit spektakuler yang akan menghiasi Oktober 2025. Melalui peristiwa-peristiwa ini, kita bisa menyaksikan bagaimana alam semesta menampilkan keindahan dan dinamikanya yang menakjubkan. Mulai dari Gerhana Bulan Sebagian pada 29 Oktober yang memperlihatkan bayangan Bumi menutupi sebagian permukaan bulan, hingga Supermoon 17 Oktober yang membuat Bulan tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari biasanya.

Tentunya, Hujan Meteor Orionid pada 21 Oktober juga menjadi fenomena yang patut dinantikan. Dengan kecepatan meteor mencapai 66 kilometer per detik, pengamat bisa menyaksikan hingga 15-20 meteor per jam dalam kondisi langit yang ideal. Fase Bulan Baru pada 14 Oktober memberikan kesempatan emas untuk mengamati objek-objek langit yang biasanya terhalang cahaya Bulan. Sementara itu, Bulan di Perigee pada 26 Oktober menandai titik terdekat Bulan dengan Bumi untuk kedua kalinya di bulan tersebut.

Undoubtedly, Oktober 2025 menjadi bulan yang istimewa bagi para penggemar astronomi dan siapa saja yang mengagumi keajaiban langit malam. Meskipun beberapa fenomena memerlukan lokasi pengamatan khusus atau waktu tertentu, sebagian besar dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa peralatan khusus. Oleh karena itu, jangan lupa tandai kalender Anda dan siapkan diri untuk menyambut pertunjukan alam yang memukau ini.

Akhir kata, keindahan langit malam Oktober 2025 mengingatkan kita akan keajaiban alam semesta yang terus bergerak dalam harmoni sempurna. Bersama-sama, mari kita nikmati dan abadikan momen-momen langka ini sebagai bagian dari pengalaman hidup yang berharga.

PENTING : baca artikel Makanan Ultra Proses Dapat Rusak Fungsi Otak

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.