Pernahkah Anda membayangkan adanya planet yang mirip dengan Bumi yang bisa menjadi rumah kedua bagi manusia? Ternyata, ilmuwan telah menemukan beberapa kandidat menjanjikan yang berada di zona layak huni. TOI-715b, misalnya, hanya berjarak 137 tahun cahaya dari Bumi dan berukuran sekitar 1,5 kali lebar planet kita. Selain itu, L 98-59 f yang berjarak sekitar 35 tahun cahaya, mengorbit bintang katai merah redup dan memiliki massa minimal 2,8 kali lipat Bumi.
Penemuan planet baru yang ditemukan NASA seperti TOI 700 e bahkan memiliki ukuran mirip Bumi dan membutuhkan waktu sekitar 28 hari untuk mengorbit bintangnya. Menariknya, planet yang paling mirip dengan keadaan bumi ini tidak sendirian. Dalam sistem TRAPPIST-1 yang berjarak sekitar 40 tahun cahaya, tiga planet ditemukan berada di zona habitable, yang memungkinkan mereka mempertahankan air cair jika memiliki atmosfer. Tidak hanya itu, planet LP 890-9 c yang ditemukan menggunakan teleskop James Webb mengorbit bintangnya hanya dalam waktu 8,5 hari. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi planet seperti bumi yang menawarkan harapan sebagai tempat potensial bagi kehidupan di luar Bumi.
Penemuan Planet Mirip Bumi di Zona Layak Huni
Penemuan terbaru yang menggembirakan para astronom adalah L 98-59 f, planet super-Bumi dengan massa minimal 2,8 kali Bumi. Ditemukan pada 2025, planet ini mengorbit bintang katai merah L 98-59 setiap 23 hari dan berada di zona layak huni—wilayah di sekitar bintang yang memungkinkan air dalam bentuk cair. Menariknya, sistem L 98-59 hanya berjarak sekitar 35 tahun cahaya dari kita, menjadikannya objek penelitian yang ideal.
Selain itu, TOI 700 e yang ditemukan NASA berukuran 95% dari ukuran Bumi dan terletak sekitar 100 tahun cahaya dari kita. Planet ini membutuhkan waktu sekitar 28 hari untuk mengorbit bintangnya dan kemungkinan terkunci pasang surut.
Pada tahun yang sama, teleskop James Webb juga membantu menemukan LP 890-9 c, yang berukuran 75% lebih besar dari Bumi dan berjarak 98 tahun cahaya. Planet ini mengorbit bintang kerdil merah dalam waktu 8,5 hari dengan suhu sangat dingin sekitar minus 1,1 Celsius, namun tetap berada di zona layak huni.
Bahkan, sistem TRAPPIST-1 yang berjarak sekitar 40 tahun cahaya menarik perhatian khusus. TRAPPIST-1 e, salah satu dari tujuh planet di sistem ini, berukuran hampir sama dengan Bumi dan mengorbit bintangnya hanya dalam waktu 6 hari. Data dari James Webb menunjukkan planet ini kemungkinan memiliki atmosfer berbasis nitrogen yang lebih mirip dengan Bumi daripada Venus atau Mars.
Apa Itu Zona Layak Huni dan Mengapa Penting?

Zona layak huni atau habitable zone merupakan konsep astrobiologi yang menggambarkan wilayah di sekitar bintang di mana kondisi memungkinkan terbentuknya lingkungan penopang kehidupan. Konsep ini sering disebut sebagai “Goldilocks Zone” – tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tapi “pas” untuk keberadaan air cair di permukaan planet.
Beberapa faktor kunci menentukan zona layak huni suatu sistem keplanetan:
- Jarak dari bintang – posisi di mana suhu tidak terlalu panas atau terlalu dingin
- Atmosfer yang memadai – harus mampu mempertahankan air dalam bentuk cair dan mencegah hilangnya panas
- Kehadiran elemen penting – unsur seperti karbon, nitrogen, hidrogen, dan oksigen yang diperlukan untuk kehidupan seperti di Bumi
Kecerahan atau luminositas bintang sangat mempengaruhi lokasi zona layak huni. Bintang yang lebih besar dan panas memiliki zona layak huni yang lebih jauh, sementara bintang katai merah yang lebih kecil dan dingin memiliki zona yang lebih dekat ke pusat. Bumi sendiri berada di zona layak huni Matahari kita.
Meskipun begitu, berada di zona layak huni tidak otomatis menjamin kelayakhunian. Planet juga membutuhkan tekanan atmosfer yang sesuai, massa yang cukup untuk mempertahankan atmosfer, dan aktivitas geologi yang mendukung siklus karbon. Tanpa atmosfer atau dengan atmosfer yang terlalu tipis, molekul-molekul akan dengan mudah terlepas ketika disapu angin bintang.
Kemampuan suatu planet menampung air cair menjadi kriteria paling umum dalam pencarian planet layak huni. Seluruh kehidupan yang kita kenal saat ini bergantung pada air, menjadikan zona ini sangat penting dalam eksplorasi kehidupan di luar Bumi.
Potensi Kehidupan dan Studi Atmosfer Planet
Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) telah membuka era baru dalam studi atmosfer planet yang mirip dengan bumi. NASA saat ini sedang meneliti TRAPPIST-1 e menggunakan JWST, dengan empat pengamatan awal yang telah dilakukan sepanjang 2023. Instrumen inframerah Webb memberikan detail yang jauh lebih banyak tentang komposisi atmosfer planet dibandingkan teleskop sebelumnya.
Analisis data awal menunjukkan bahwa TRAPPIST-1 e kemungkinan besar telah kehilangan atmosfer primer berbasis hidrogen dan helium karena aktivitas tinggi bintang induknya. Meski begitu, peluang adanya atmosfer sekunder masih terbuka. Para peneliti juga menilai atmosfer planet ini kemungkinan kecil didominasi oleh karbon dioksida seperti Venus atau Mars. Sebaliknya, atmosfernya mungkin berbasis nitrogen, lebih mirip dengan Bumi atau bulan Titan milik Saturnus.
Keberhasilan JWST mendeteksi berbagai gas di eksoplanet lain juga patut dicatat. Teleskop ini telah mendeteksi metana di WASP-80B, hidrogen sulfida di HD 189733 b, dan karbon dioksida di planet luar tata surya lainnya.
Para astronom mencari ketidakseimbangan kimiawi dalam atmosfer sebagai tanda potensial kehidupan. Mereka memperhatikan rasio karbon dioksida, metana, dan air yang tidak dapat dipertahankan secara alami—ini bisa mengindikasikan proses biologis. Temuan semacam ini bisa menjadi kunci dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
Kesimpulan
Penemuan planet-planet yang mirip dengan Bumi di zona layak huni tentu memberi harapan baru bagi manusia. Memang, dari TOI-715b hingga TRAPPIST-1 e, setiap temuan baru membuka jendela kemungkinan kehidupan di luar Bumi. Meskipun begitu, berada di zona Goldilocks saja tidak cukup menjamin kemampuan planet untuk menopang kehidupan. Faktanya, keberadaan atmosfer yang tepat, aktivitas geologi, dan keseimbangan kimiawi juga menjadi faktor penentu.
Teleskop James Webb, tanpa diragukan lagi, telah mengubah cara kita mempelajari dunia-dunia jauh ini. Berkat kemampuan deteksinya yang luar biasa, para ilmuwan kini bisa menganalisis komposisi atmosfer planet-planet ini dengan detail yang belum pernah dicapai sebelumnya. Oleh karena itu, studi tentang TRAPPIST-1 e dengan indikasi atmosfer berbasis nitrogen patut disambut dengan antusias.
Planet-planet seperti L 98-59 f dan TOI 700 e menunjukkan bahwa alam semesta mungkin lebih ramah terhadap kemungkinan kehidupan daripada yang kita bayangkan. Walaupun jarak puluhan hingga ratusan tahun cahaya masih menjadi kendala besar untuk eksplorasi langsung, pemahaman kita terus berkembang melalui observasi jarak jauh.
Pada akhirnya, pencarian planet kedua bagi manusia bukan sekedar tentang menemukan tempat baru untuk ditinggali. Namun juga tentang memahami posisi kita di alam semesta dan menjawab pertanyaan kuno: apakah kita sendirian? Sementara teknologi observasi semakin canggih dan data terus terkumpul, kita mungkin akan menemukan jawaban yang mengejutkan dalam beberapa dekade mendatang. Semoga, suatu hari nanti, kita bisa membuktikan bahwa Bumi hanyalah salah satu dari banyak planet yang menampung keajaiban kehidupan di alam semesta yang luas ini.
FAQs
Q1. Apa yang dimaksud dengan zona layak huni? Zona layak huni adalah wilayah di sekitar bintang di mana kondisinya memungkinkan keberadaan air cair di permukaan planet. Ini merupakan area yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin, sehingga berpotensi mendukung kehidupan seperti yang kita kenal.
Q2. Planet mirip Bumi apa yang baru-baru ini ditemukan? Beberapa planet mirip Bumi yang baru ditemukan termasuk TOI-700 e yang berukuran 95% dari Bumi, L 98-59 f yang merupakan super-Bumi, dan LP 890-9 c yang 40% lebih besar dari Bumi. Semua planet ini berada di zona layak huni bintang induknya masing-masing.
Q3. Mengapa TRAPPIST-1 e menarik perhatian para ilmuwan? TRAPPIST-1 e menarik perhatian karena ukurannya yang hampir sama dengan Bumi dan berada di zona layak huni. Data terbaru menunjukkan kemungkinan planet ini memiliki atmosfer berbasis nitrogen yang lebih mirip dengan Bumi dibandingkan Venus atau Mars.
Q4. Bagaimana cara ilmuwan mempelajari atmosfer planet-planet jauh? Ilmuwan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) untuk mempelajari atmosfer planet-planet jauh. JWST mampu mendeteksi berbagai gas di eksoplanet dan memberikan detail yang jauh lebih banyak tentang komposisi atmosfer dibandingkan teleskop sebelumnya.
Q5. Apa tanda-tanda yang dicari ilmuwan untuk mendeteksi potensi kehidupan di planet lain? Ilmuwan mencari ketidakseimbangan kimiawi dalam atmosfer planet sebagai tanda potensial kehidupan. Mereka memperhatikan rasio karbon dioksida, metana, dan air yang tidak dapat dipertahankan secara alami, yang bisa mengindikasikan adanya proses biologis.
Baca artikel 5 Fenomena Langit Spektakuler Oktober 2025: Jangan Terlewat!


Pingback: Review Anno 1800: Game Strategi PC yang Layak 100 Jam -