Vaksin mRNA telah menjadi terobosan penting dalam dunia medis yang kini tidak hanya digunakan untuk COVID-19. Sebelum pandemi, penelitian tentang vaksin mRNA sudah dilakukan untuk berbagai penyakit seperti rabies, flu, Zika, dan bahkan kanker. Berdasarkan data WHO tahun 2022, sekitar 10 juta kematian atau satu dari enam kematian di dunia disebabkan oleh kanker. Namun, vaksin mRNA menawarkan harapan baru dalam penanganan berbagai penyakit.
Banyak dari kita mungkin bertanya-tanya, vaksin mRNA itu apa dan bagaimana cara kerjanya? Pada dasarnya, vaksin mRNA adalah jenis vaksin baru untuk melindungi diri dari penyakit menular. Meskipun demikian, masih ada kekhawatiran di masyarakat bahwa vaksin mRNA dapat memicu kanker. Faktanya, vaksin COVID-19 yang berbasis mRNA sangat aman dan tidak akan memicu kanker. Tidak ada bukti yang mendukung mitos bahwa vaksin mRNA terkait dengan peningkatan kasus kanker atau kanker yang lebih agresif.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang vaksin mRNA, cara kerjanya, mengapa vaksin ini tidak menyebabkan kanker, serta aplikasinya untuk berbagai penyakit lain. Yang menarik, vaksin kanker berbasis mRNA sangat efisien dan lebih prominen dibanding lainnya. Mari kita pelajari bersama semua yang perlu Anda ketahui tentang teknologi vaksin yang menjanjikan ini.
Apa Itu Vaksin mRNA dan Bagaimana Cara Kerjanya

Berbeda dengan vaksin konvensional, vaksin mRNA tidak menggunakan virus atau kuman yang dilemahkan. Sebaliknya, vaksin ini mengandung molekul mRNA yang menyandi protein spesifik dari patogen target. Untuk memahaminya, mari ketahui dulu apa itu mRNA.
Messenger RNA (mRNA) adalah molekul RNA untai tunggal yang dibentuk selama proses transkripsi, di mana enzim RNA polimerase menyalin gen dari DNA. Secara alami, mRNA berfungsi sebagai pembawa pesan genetik dari DNA ke ribosom untuk sintesis protein.
Pada vaksin mRNA COVID-19, mRNA yang terkandung menyandi protein lonjakan (spike protein) yang ditemukan di permukaan virus SARS-CoV-2. Vaksin ini diberikan melalui suntikan intramuskular di lengan atas. Setelah disuntikkan, mRNA yang terbungkus oleh partikel lemak (lipid nanoparticles) akan masuk ke dalam sel melalui endositosis.
Di dalam sitoplasma, mRNA memicu sel untuk memproduksi protein lonjakan. Protein ini kemudian ditampilkan di permukaan sel, sehingga sistem kekebalan tubuh mengenalinya sebagai benda asing dan mulai memproduksi antibodi. Pada akhir proses, tubuh telah belajar cara melindungi diri dari infeksi di masa depan tanpa perlu terpapar virus sesungguhnya.
Teknologi vaksin mRNA sebenarnya telah lama dipelajari untuk menangani penyakit lain seperti flu, Zika, rabies, dan CMV.
Mengapa Vaksin mRNA Tidak Menyebabkan Kanker
Klaim bahwa vaksin mRNA menyebabkan kanker telah beredar luas, namun tidak memiliki dasar ilmiah. Dr. Khariri, peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak berdasar pada bukti ilmiah.
Pertama-tama, messenger RNA hanya bekerja di sitoplasma sel untuk membawa instruksi membuat protein sementara, seperti protein spike pada SARS-CoV-2. Instruksi ini tidak pernah masuk ke dalam inti sel di mana DNA berada, sehingga tidak mengubah materi genetik manusia.
Selain itu, mRNA tidak dapat menyisip ke DNA manusia tanpa bantuan enzim reverse transcriptase, yang tidak dimiliki tubuh manusia secara alami. Tidak ada mekanisme dalam vaksin mRNA yang memungkinkan integrasi ke DNA manusia.
Artikel yang mengklaim bahwa vaksin mRNA dapat menonaktifkan protein penekan tumor alami dalam tubuh juga telah dibantah. Memorial Sloan Kettering Cancer Center mengonfirmasi bahwa klaim tersebut salah mengartikan temuan penelitian yang dibuat pada 2018, jauh sebelum pandemi COVID-19.
Studi di Korea Selatan yang sering disalahartikan hanya menunjukkan hubungan epidemiologis, bukan hubungan sebab-akibat. BMJ, jurnal medis terkemuka, menyatakan tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa vaksin mRNA terkait dengan kanker.
Institut Kanker Nasional di Amerika Serikat juga menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan kanker atau menyebabkan kekambuhan.
Aplikasi Vaksin mRNA untuk Penyakit Lain
Keberhasilan vaksin mRNA dalam penanganan COVID-19 telah membuka jalan bagi pengembangan vaksin untuk penyakit lainnya. Sejak pandemi, teknologi mRNA tidak hanya digunakan untuk COVID-19 tetapi juga sedang diteliti untuk berbagai penyakit lain.
Salah satu penelitian paling menjanjikan adalah penggunaan vaksin mRNA untuk HIV. Studi HVTN 302 yang didukung oleh NIAID saat ini sedang mengevaluasi keamanan dan respons imun vaksin mRNA terhadap HIV pada 108 relawan. Jika berhasil, ini akan membuka jalan untuk uji coba yang lebih besar.
Para ilmuwan juga mengembangkan vaksin mRNA untuk virus syncytial pernapasan (RSV) yang dikenal sebagai penyebab umum infeksi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak dan orang dewasa di atas 60 tahun. Vaksin mResvia® tersedia dalam bentuk pre-filled syringe berisi 50 μg mRNA termodifikasi.
Di bidang onkologi, vaksin mRNA untuk kanker telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Pada model tikus melanoma, peneliti melihat hasil positif pada tumor yang biasanya resisten terhadap pengobatan ketika menggabungkan formulasi mRNA dengan obat imunoterapi. Baru-baru ini, peneliti dari University of Florida berhasil menciptakan vaksin mRNA yang mampu melatih sistem imun untuk memerangi kanker secara luas.
Selain itu, teknologi mRNA juga diteliti untuk influenza, rabies, demam berdarah, Zika, Ebola, malaria dan tuberkulosis.
Kesimpulan
Teknologi vaksin mRNA terbukti menjadi langkah revolusioner dalam dunia kedokteran modern. Akhirnya, masyarakat perlu memahami bahwa vaksin ini tidak hanya efektif untuk menangani COVID-19, tetapi juga menawarkan harapan baru untuk berbagai penyakit serius lainnya.
Selama ini, banyak kekhawatiran tentang vaksin mRNA yang tersebar tanpa dasar ilmiah yang kuat. Pada kenyataannya, vaksin ini bekerja dengan cara yang aman tanpa memodifikasi DNA manusia. Meskipun demikian, keberhasilan vaksin mRNA melawan COVID-19 hanyalah awal dari potensi besarnya.
Penelitian terkini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan vaksin mRNA untuk HIV, RSV, dan bahkan kanker. Hasil positif dari studi-studi ini membuka jalan bagi masa depan pengobatan yang lebih efektif. Selain itu, aplikasi vaksin mRNA untuk penyakit seperti influenza, rabies, dan tuberkulosis menandakan era baru dalam penanganan penyakit menular.
Berdasarkan fakta ilmiah, vaksin mRNA tidak mengubah materi genetik manusia dan tidak menyebabkan kanker. Tantangan ke depan adalah mengedukasi masyarakat tentang bagaimana teknologi ini bekerja sehingga ketakutan yang tidak berdasar dapat diatasi.
Vaksin mRNA membawa harapan besar bagi masa depan kedokteran. Oleh karena itu, pengetahuan yang akurat tentang teknologi ini menjadi sangat penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dalam menanggulangi berbagai penyakit yang selama ini sulit ditangani.
FAQs
Q1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan vaksin mRNA? Vaksin mRNA adalah jenis vaksin baru yang mengandung molekul mRNA yang menyandi protein spesifik dari patogen target. Berbeda dengan vaksin konvensional, vaksin ini tidak menggunakan virus atau kuman yang dilemahkan, melainkan memicu sel tubuh untuk memproduksi protein yang akan dikenali sistem kekebalan.
Q2. Apakah vaksin mRNA dapat menyebabkan kanker? Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa vaksin mRNA menyebabkan kanker. Vaksin mRNA bekerja di sitoplasma sel dan tidak mengubah DNA manusia. Lembaga kesehatan terkemuka seperti Institut Kanker Nasional AS menegaskan bahwa vaksin COVID-19 tidak menyebabkan atau memicu kekambuhan kanker.
Q3. Selain COVID-19, untuk penyakit apa saja vaksin mRNA sedang dikembangkan? Vaksin mRNA sedang diteliti dan dikembangkan untuk berbagai penyakit seperti HIV, virus syncytial pernapasan (RSV), influenza, rabies, demam berdarah, Zika, Ebola, malaria, dan tuberkulosis. Penelitian juga menunjukkan potensi penggunaan vaksin mRNA dalam pengobatan kanker.
Q4. Bagaimana vaksin mRNA mempengaruhi sistem kekebalan tubuh? Vaksin mRNA memicu sel tubuh untuk memproduksi protein spesifik yang kemudian dikenali sistem kekebalan sebagai benda asing. Hal ini mendorong produksi antibodi dan melatih sistem kekebalan untuk melindungi tubuh dari infeksi di masa depan tanpa perlu terpapar virus sesungguhnya.
Q5. Apa keunggulan vaksin mRNA dibandingkan vaksin konvensional? Vaksin mRNA memiliki beberapa keunggulan, termasuk waktu pengembangan yang lebih cepat, kemampuan untuk menargetkan berbagai penyakit dengan modifikasi minimal, dan potensi untuk menghasilkan respons imun yang kuat. Selain itu, vaksin mRNA juga menunjukkan hasil menjanjikan dalam pengembangan terapi kanker yang lebih personal dan efektif.
Baca artikel Game Horor Multiplayer Android Baru Bikin Server Down! kalau kamu pecinta game horror.


Pingback: Elon Musk Umumkan Jadwal Pasti Misi Mars 2025 -