Dampak perubahan iklim semakin nyata terlihat ketika Asia menjadi wilayah yang paling banyak dilanda bencana di dunia akibat cuaca, iklim, dan bahaya yang berkaitan dengan air pada tahun 2023. Kenyataan ini sungguh mengkhawatirkan mengingat total 79 bencana terkait dengan bahaya hidrometeorologi telah dilaporkan di wilayah kita. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80% berhubungan dengan peristiwa banjir dan badai, dengan lebih dari 2.000 korban jiwa dan sembilan juta orang terkena dampak langsung.
Selain itu, efek perubahan iklim terlihat jelas pada suhu rata-rata tahunan di dekat permukaan Asia tahun 2023 yang mencapai posisi tertinggi kedua dalam catatan, yaitu 0.91°C di atas rata-rata 1991-2020 dan 1.87°C di atas rata-rata 1961-1990. Di Indonesia, kita juga merasakan dampak perubahan iklim global yang semakin parah. Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa setiap kenaikan suhu global 1°C, atmosfer akan menampung sekitar 7% lebih banyak uap air. Ketika badai terbentuk, mereka menyedot persediaan uap air ekstra ini, dan akhirnya menghasilkan hujan ekstrem dalam waktu singkat yang berdampak pada lingkungan kita. Pada artikel ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana dampak dari perubahan iklim semakin mengancam kehidupan di benua Asia dan langkah-langkah adaptasi yang diperlukan untuk menghadapinya.
Asia Alami Gelombang Panas Terparah Sepanjang Sejarah
Kawasan Asia kini mencatat lonjakan suhu ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan dampak perubahan iklim semakin terlihat nyata. Gelombang panas yang melanda wilayah ini selama dua tahun terakhir telah memecahkan rekor-rekor suhu tertinggi di berbagai negara, mengancam kehidupan jutaan orang.
Rekor suhu tercatat di Jepang, China, dan Asia Tenggara
Jepang mencatatkan suhu tertinggi sepanjang sejarah di Prefektur Hyogo dengan 41,2 derajat Celsius. Sementara itu, China melaporkan Juli 2024 sebagai bulan terpanas dalam sejarah pengamatan dengan rata-rata suhu udara mencapai 23,21 derajat Celsius. Di beberapa wilayah China, seperti provinsi Yunnan, suhu bahkan melonjak hingga 43,4 derajat Celsius.
Thailand dan Filipina juga mengalami kondisi serupa. Bangkok mencapai suhu 40,1 derajat Celsius dengan indeks panas melampaui 52 derajat Celsius. Manila, kota dengan lebih dari 14 juta penduduk, mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang masa yaitu 38,8 derajat Celsius.
Gelombang panas 2023-2024 melebihi ambang batas kesehatan manusia
Intensitas panas yang terjadi telah melampaui batas toleransi tubuh manusia di beberapa wilayah. Asia Tenggara menghadapi kombinasi suhu tinggi dan kelembaban yang membahayakan, khususnya di pesisir India dan bagian Asia Tenggara yang sangat lembap, dimana indeks panas mendekati batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Di Thailand, suhu panas ekstrem mencapai 44,1 derajat Celsius pada akhir April 2024.
Dampak perubahan iklim global telah memperparah situasi ini. Para ilmuwan menegaskan bahwa gelombang panas di Asia “mustahil terjadi” tanpa dipicu pemanasan global. Bahkan, penelitian menunjukkan pemanasan global telah membuat suhu 1,7 derajat Celsius lebih panas di beberapa wilayah Timur Tengah dan 1 derajat Celsius lebih panas di Filipina.
Kematian akibat panas ekstrem sering tidak tercatat secara resmi
Meskipun dampak dari perubahan iklim semakin terasa, kematian akibat gelombang panas seringkali tidak tercatat dengan baik. Di Thailand, 30 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kepanasan, sedangkan di India, gelombang panas yang parah pada April dan Juni mengakibatkan sekitar 110 orang meninggal akibat sengatan panas.
Namun, studi menunjukkan angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Para peneliti menyatakan bahwa jutaan orang telah meninggal lebih awal selama dua dekade terakhir akibat panas ekstrem. Di Eropa, yang memiliki sistem pencatatan lebih baik, kematian terkait panas telah meningkat 25% dalam satu dekade terakhir. Kenyataan ini menggambarkan dampak perubahan iklim terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat yang semakin memprihatinkan.
Perubahan Iklim Percepat Pemanasan dan Cuaca Ekstrem
Laju pemanasan global berlangsung dengan kecepatan mengkhawatirkan di seluruh dunia, namun situasi di benua Asia jauh lebih parah. Fakta-fakta terbaru menunjukkan bahwa kawasan kita sedang mengalami perubahan suhu yang lebih drastis dengan konsekuensi yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Asia memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global
Data dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa Asia mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Tren pemanasan di kawasan ini telah meningkat hampir dua kali lipat sejak periode 1961-1990. Suhu rata-rata tahunan di dekat permukaan Asia pada tahun 2023 mencapai rekor sebagai yang tertinggi kedua dalam catatan, yaitu 0,91°C di atas rata-rata 1991-2020 dan 1,87°C di atas rata-rata 1961-1990. Angka-angka ini memperjelas bahwa dampak perubahan iklim global di Asia berlangsung dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.
Efek perubahan iklim memperparah frekuensi bencana
Perubahan iklim telah memperburuk frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam. Sepanjang tahun 2023, tercatat 79 bencana terkait hidrometeorologi di Asia, dengan lebih dari 80% berupa banjir dan badai yang mengakibatkan lebih dari 2.000 korban jiwa dan sembilan juta orang terkena dampak langsung. Atmosfer yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga saat hujan turun, intensitasnya jauh lebih tinggi. Akibatnya, badai menjadi lebih kuat dan memiliki durasi yang lebih lama.
Kenaikan suhu laut picu gelombang panas laut
Gelombang panas laut memecahkan rekor pada tahun 2023 dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ekstrem ini mencakup 96% permukaan laut dunia dibandingkan dengan rata-rata historis sebesar 73,7%. Suhu laut rata-rata mencapai 1,3 derajat Celsius di atas normal pada tahun 2023, sedangkan durasi rata-rata gelombang panas meningkat hingga 120 hari, empat kali lipat dari rata-rata historis. Bahkan, Samudra Atlantik Utara mengalami gelombang panas yang berlangsung selama 525 hari dengan suhu terkadang mencapai 3 derajat Celsius di atas normal.
Pencairan gletser ancam ketahanan air di Asia Tengah
Kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan terjadi di pegunungan Asia. Dua puluh dari 22 gletser yang diamati di wilayah Asia Pegunungan Tinggi menunjukkan kehilangan massa yang terus berlanjut. Khususnya, gunung gletser di Asia Tengah, Tien Shan, telah menyusut empat kali lebih cepat dari rata-rata dunia. Para peneliti memperkirakan bahwa pada tahun 2050, es di sana hanya akan tersisa setengahnya. Ketidakteraturan curah hujan dan berkurangnya salju turut memperburuk krisis air. Situasi ini sangat mengancam sumber daya air yang menjadi penopang bagi miliaran manusia serta ekosistem yang tak terhitung jumlahnya.
Banjir dan Badai Jadi Ancaman Utama di Asia
Bencana hidrometeorologi telah menjadi ancaman yang semakin mendesak di kawasan Asia. Berbeda dengan fenomena pemanasan, banjir dan badai kini muncul sebagai bencana yang menimbulkan dampak paling luas dengan konsekuensi langsung pada jutaan manusia.
Lebih dari 80% bencana terkait air: banjir dan badai
Berdasarkan laporan ASEAN, sejak tahun 1900 tercatat sedikitnya 1.575 bencana hidrometeorologi di Asia Tenggara. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 80% dari 79 bencana terkait cuaca di Asia merupakan banjir dan badai. Intensitas curah hujan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti di Vietnam yang mencatat 1.739,6 mm hujan dalam 24 jam pada akhir Oktober 2025.
Pada akhir 2025, banjir besar dan tanah longsor di Asia Tenggara dan Asia Selatan menewaskan lebih dari 1.000 jiwa. Di Indonesia saja, BNPB melaporkan 770 korban jiwa dengan 463 orang masih hilang akibat banjir dan longsor di Sumatra. Sementara itu, Sri Lanka mencatat 465 korban meninggal dan 366 orang hilang setelah diterjang Siklon Ditwah.
Contoh: Topan Mocha di Myanmar dan Bangladesh
Topan Mocha menjadi contoh nyata dampak perubahan iklim yang menyebabkan badai lebih intens. Dengan kecepatan angin mencapai 209 km/jam, badai ini melanda pesisir Myanmar dan Bangladesh pada Mei 2023. Akibatnya, 145 orang meninggal di Myanmar dan sekitar 400.000 orang dievakuasi di kedua negara.
Para ilmuwan menegaskan bahwa badai dan siklon kini lebih kuat dan lebih sering terjadi karena dampak perubahan iklim global. Topan Mocha merupakan badai terbesar yang melanda Teluk Benggala dalam 10 tahun terakhir.
Kerugian ekonomi dan sosial akibat bencana hidrometeorologi
Kerugian ekonomi akibat banjir dan badai mencapai miliaran dolar. Center of Economic and Law Studies memperkirakan banjir di Sumatra berpotensi menimbulkan kerugian sekitar 4,1 miliar dolar AS. Di Vietnam, kerugian ekonomi akibat banjir melampaui 13 triliun dong.
Selain itu, dampak sosial juga sangat berat. UNICEF melaporkan lebih dari 275.000 anak termasuk dalam kelompok terdampak di Sri Lanka. Kerusakan infrastruktur dasar, gangguan pada sistem pendidikan, dan hilangnya mata pencaharian menjadi konsekuensi sosial jangka panjang dari bencana hidrometeorologi yang semakin diperparah oleh dampak perubahan iklim.
Negara-Negara Asia Hadapi Tantangan Adaptasi Iklim
Meskipun menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin parah, negara-negara di Asia mengalami kendala signifikan dalam upaya adaptasi dan mitigasi. Tantangan ini mencakup ketersediaan data, infrastruktur peringatan, dan kapasitas institusional yang masih terbatas.
Kurangnya proyeksi iklim dan layanan mitigasi
Badan statistik nasional di kawasan Asia-Pasifik melaporkan ketidakcukupan staf untuk menangani data iklim, bahkan banyak yang tidak memiliki unit khusus untuk fungsi tersebut. Di Indonesia, kurang dari 5% kabupaten dan kota memiliki proyeksi iklim dan integrasi perubahan iklim dalam perencanaan tata ruang. Mayoritas proyeksi yang ada merupakan hasil dari program yang didanai oleh donor internasional, bukan inisiatif pemerintah sendiri.
Hanya 50% negara sediakan data iklim untuk kebijakan
Meski sekitar 80% anggota Organisasi Meteorologi Dunia di Asia menyediakan layanan iklim untuk mendukung pengurangan risiko bencana, kurang dari 50% mampu menyediakan proyeksi iklim dan produk khusus untuk manajemen risiko dan adaptasi. Para pembuat kebijakan kesulitan mengumpulkan dan menganalisis data untuk merespons perubahan iklim secara efektif. Data mengenai dampak terhadap ekosistem, infrastruktur, dan ketahanan air juga masih sangat terbatas.
Perluasan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan
Namun demikian, kemajuan mulai terlihat melalui penerapan aksi antisipatif yang terus meningkat di kawasan Asia-Pasifik. Indonesia menunjukkan peran aktif dengan sistem peringatan dininya yang kini menjadi referensi bagi negara-negara lain di kawasan. BMKG telah meluncurkan Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami di Timor-Leste sebagai bagian dari perluasan jangkauan layanan berbasis sains.
Kesimpulan
Dampak perubahan iklim di Asia sungguh mengkhawatirkan. Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, dengan gelombang panas yang memecahkan rekor di Jepang, China, Thailand, dan Filipina. Akibatnya, jutaan orang terpapar suhu ekstrem yang bahkan melampaui batas toleransi tubuh manusia.
Bencana hidrometeorologi semakin mengancam kehidupan masyarakat Asia. Faktanya, lebih dari 80% dari 79 bencana terkait cuaca di wilayah ini berupa banjir dan badai yang telah menewaskan ribuan orang. Topan Mocha menjadi bukti nyata bagaimana badai kini lebih kuat dan merusak, sementara kerugian ekonomi akibat bencana-bencana tersebut mencapai miliaran dolar.
Meskipun situasi semakin parah, negara-negara Asia masih menghadapi tantangan besar dalam adaptasi iklim. Kurang dari 50% negara mampu menyediakan proyeksi iklim untuk manajemen risiko, sementara di Indonesia, kurang dari 5% kabupaten memiliki proyeksi iklim untuk perencanaan tata ruang. Namun demikian, beberapa kemajuan mulai terlihat melalui perluasan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan.
Tanpa upaya mitigasi dan adaptasi yang lebih kuat, dampak perubahan iklim di Asia akan terus memburuk. Oleh karena itu, kerjasama regional dan internasional menjadi sangat penting untuk mengembangkan kapasitas, berbagi data, dan membangun infrastruktur yang tangguh menghadapi iklim. Nasib jutaan orang di benua terbesar dunia ini bergantung pada tindakan kolektif dan cepat yang kita ambil sekarang.
Menegangkan !!! Baca artikel ini Konflik Thailand–Kamboja Memanas, ASEAN Gelar Pertemuan
Kamu pecinta games? Jangan lupa mampir ke GameEvolutionID
