Suhu Global 2025 Pecahkan Rekor 123 Tahun

Suhu Global 2025 Pecahkan Rekor 123 Tahun

Kita sedang hidup dalam dekade terpanas dalam sejarah pencatatan suhu bumi. Januari 2025 kini tercatat sebagai bulan Januari terpanas sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya yang dicapai pada Januari 2024. Tidak hanya itu, rata-rata suhu permukaan udara global bulan Januari meningkat hingga 1,75°C di atas tingkat pra-industri. Bahkan, kenaikan suhu paling ekstrem mencapai 6°C lebih tinggi di wilayah utara Kanada, Rusia, dan negara-negara Skandinavia.

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan peningkatan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Arti dekade sendiri adalah periode waktu selama sepuluh tahun, dan 1 dekade berapa tahun? Tentu saja jawabannya adalah 10 tahun. Namun, dekade yang kita alami saat ini bukanlah dekade biasa. Data menunjukkan bahwa periode 12 bulan dari Agustus 2024 hingga Juli 2025 adalah 1,53 derajat Celcius lebih hangat daripada tingkat pra-industri. Selain itu, Juli 2025 menjadi bulan terhangat ketiga di Bumi sejak pencatatan dimulai.

Fakta mengejutkan lainnya adalah dalam 19 bulan terakhir, 18 bulan di antaranya memiliki suhu minimal 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Mei 2025 juga tercatat sebagai Mei terpanas kedua di daratan dan di lautan, lebih panas 0,53 derajat Celsius di atas rata-rata. Sementara itu, Indonesia sendiri mengalami April terpanas dalam lebih dari 40 tahun pada tahun 2024. Dengan suhu udara rata-rata di Indonesia mencapai 27,5°C, terjadi peningkatan sekitar 0,8°C dibandingkan dengan periode 1991 hingga 2020.

Suhu Global 2025 Pecahkan Rekor Sejak 1900

Tahun 2025 terus mencatatkan rekor-rekor baru dalam suhu global. Setelah Januari yang terpanas, Maret 2025 menjadi bulan Maret kedua terpanas dalam sejarah, dengan suhu 1,60°C di atas tingkat pra-industri. Selain itu, Mei 2025 tercatat sebagai Mei kedua terpanas dengan suhu 0,53°C di atas rata-rata 1991-2020. Bahkan, Juni 2025 menjadi Juni ketiga terpanas secara global dengan suhu 0,47°C di atas rata-rata.

Pada saat yang sama, periode 12 bulan dari Juli 2024 hingga Juni 2025 mencapai 1,55°C di atas tingkat pra-industri. Meskipun demikian, Agustus 2025 tercatat sebagai Agustus ketiga terpanas secara global. Secara mengejutkan, 20 bulan dalam periode 21 bulan memiliki suhu permukaan udara rata-rata global lebih dari 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

Secara khusus untuk Indonesia, BMKG memprediksi suhu rata-rata bulanan permukaan udara dari Januari hingga Desember 2025 akan meningkat antara 0,3 hingga 0,6 derajat Celcius. Kenaikan suhu diprediksi terjadi dari Mei hingga Juli 2025, dengan peningkatan rata-rata sekitar 0,4 derajat lebih tinggi dari kondisi normal 30 tahun terakhir (1991-2020). Pada Mei 2025, suhu udara rata-rata di Indonesia mencapai 27,3°C, menunjukkan anomali positif sebesar 0,32°C. Anomali suhu udara Indonesia untuk Mei 2025 ini merupakan anomali tertinggi kesembilan sejak periode pengamatan dimulai tahun 1981.

Apa Penyebab Lonjakan Suhu Global Tahun Ini?

Lonjakan suhu global pada 2025 merupakan hasil dari beberapa faktor yang saling terkait. Meskipun kondisi El Niño Southern Oscillation (ENSO) telah berada pada status netral sejak Maret 2025, dampak pemanasan dari siklus El Niño sebelumnya masih terasa. Bahkan dengan kemungkinan kembalinya La Niña (fenomena pendinginan) antara September hingga November, suhu global tetap diprediksi berada di atas rata-rata.

Penyebab utama pemanasan global tetaplah bahan bakar fosil, yang menyumbang lebih dari 75% emisi gas rumah kaca global dan hampir 90% emisi karbon dioksida. Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer, menciptakan efek rumah kaca yang memerangkap panas matahari.

Selain itu, deforestasi berkontribusi sekitar 10% terhadap pemanasan global. Ketika hutan dibersihkan atau terganggu, mereka melepaskan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya. Penebangan hutan di daerah tropis saja melepaskan lebih dari 5,6 miliar ton gas rumah kaca setiap tahun.

Kebakaran hutan juga semakin parah akibat perubahan iklim, dengan musim kebakaran yang semakin panjang. Emisi karbon dari kebakaran hutan meningkat 60% secara global antara 2001 dan 2023, dengan emisi dari hutan boreal di Eurasia dan Amerika Utara hampir tiga kali lipat.

Bagaimana Dampaknya Terasa di Berbagai Belahan Dunia?

Dampak pemanasan global kini terlihat nyata di seluruh penjuru dunia. Gelombang panas laut telah mencakup 96% lautan global pada 2023, sementara lautan menyerap sekitar 90% panas tambahan dari polusi karbon. Akibatnya, tingkat kenaikan permukaan air laut di Asia Tenggara mencapai hampir 4mm per tahun—jauh di atas rata-rata global 3,5mm.

Tidak hanya itu, bencana terkait air mendominasi daftar bencana selama 50 tahun terakhir dan menyebabkan 70% kematian terkait bencana alam. Bahkan, banjir meningkat 134% dan kekeringan naik 29% sejak tahun 2000.

Pada aspek kesehatan, krisis iklim telah menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat. Selama 2022-2023, lebih dari 100.000 orang di 35 negara Eropa meninggal akibat panas, dengan kematian terkait panas pada orang berusia di atas 65 tahun meningkat 167% dibandingkan tahun 1990-an.

Di Indonesia sendiri, sekitar 45 juta penduduk terpapar kondisi panas ekstrem dalam tiga bulan terakhir. Penduduk Jakarta mengalami 69 hari dengan suhu pada Indeks Pergeseran Iklim Level 2 atau lebih tinggi—artinya kondisi panas ini dua kali lebih mungkin terjadi akibat perubahan iklim. Selain itu, curah hujan deras dan banjir terjadi terutama di Pulau Jawa, di mana sungai meluap dan tanah longsor menewaskan 21 orang dalam tiga bulan terakhir.

Key Takeaways

Berikut adalah poin-poin penting tentang rekor suhu global 2025 yang perlu Anda ketahui:

• Tahun 2025 memecahkan rekor suhu tertinggi dalam 123 tahun – Januari 2025 menjadi bulan Januari terpanas sepanjang masa dengan kenaikan 1,75°C di atas tingkat pra-industri.

• Indonesia mengalami dampak signifikan – Suhu rata-rata naik 0,8°C dari normal, dengan 45 juta penduduk terpapar kondisi panas ekstrem dalam tiga bulan terakhir.

• Bahan bakar fosil adalah penyebab utama – Menyumbang lebih dari 75% emisi gas rumah kaca global, ditambah deforestasi yang berkontribusi 10% terhadap pemanasan.

• Dampak kesehatan semakin mengkhawatirkan – Lebih dari 100.000 orang meninggal akibat panas di Eropa selama 2022-2023, dengan kematian terkait panas meningkat 167%.

• Lautan dan bencana alam terdampak parah – 96% lautan global mengalami gelombang panas, sementara banjir meningkat 134% dan kekeringan naik 29% sejak tahun 2000.

Data ini menunjukkan urgensi tindakan nyata untuk mengurangi emisi dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Baca juga artikel Sukses E-commerce China Ekspansi ke Afrika 2025

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.